Kiranya di penghujung tahun 2008 ini kita perlu banyak merenung dan berkaca, mengevaluasi diri dan merencanakan sesuatu untuk tahun mendatang. Jatah Umur tak terasa kian berkurang, angka umur semakin bertambah tentunya kesalahan, dosa juga bertambah... terus gimana amal kita?? Apa saja yang telah kita lakukan??
Dalam sebuah tembang Dhandanggula ada satu pupuh yang sangat menarik kita simak, kita kaji untuk refleksi masa depan atau tahun 2009. Tembang itu sebagai berikut :
Jago kluruk rame kapiyarsi
lawa kalong luru padhelikan
Jrih kawanan ing semune
Bang wetan sulakipun
Mratandani yen bangun enjing
Rembulan wus gumlewang
neng kulone gunung
Ing Padesan wiwit obah
Lanang wadon pan samya anambut kardi
Netepi kewajiban
Makna tembang di atas kurang lebih mengungkapkan bahwa hari sudah mulai pagi ditandai dengan ayam jantan berkokok, kelelawar sudah mencari sarangnya, matahari sudah mulai muncul diufuk timur. Diperdesaan mulai ada kegiatan, laki - laki perembpuan semua berangkat kerja untuk melaksanakan kewajibanya masing - masing.
Arti singkat tembang tersebut menyiratkan kita untuk selalu OPTIMIS menatap masa depan dengan berkarya karena itu adalah kewajiban sebagai manusia. Mari kita sambut tahun 2009 dengan OPTIMIS dan penuh dengan MAKNA dan MANFAAT. Apa yang kita lakukan hendaknya selalu dipertimbangkan MANFAAT dan MUDLOROTnya.
HATI, AKAL DAN NAFSU SELALU BEREBUT UNTUK MENDOMINASI JIWA MANUSIA. MAMPUKAH MANUSIA UNTUK MERENUNG DAN MENELUSURI KEHAMPAAN HATI, KENAKALAN AKAL DAN KELIARAN NAFSU BIRAHINYA.
Tampilkan postingan dengan label Sikap Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap Hidup. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 Desember 2008
Jumat, 12 Desember 2008
Kandidat
Para kandidat bupati, walikota, gubernur, presiden, anggota dewan, sejak masa Reformasi, setiap hari jalan, warung, tempat hiburan, televisi, radio dan masih banyak lagi tempat selalu dihiasi dengan berbagai macam propaganda, iklan diri dan entah namanya. Pada intinya mereka para "the candidate" ingin dirinya dikenal masyarakat luas. Dengan berbagai cara mereka mencoba "mentenarkan" dirinya meskipun sangat memaksa. Gambar dan slogan selalu menjadi andalan mereka, tulisan yang saling mengolok, menghujat sering mereka lontarkan lewat berbagai media. Inikah Reformasi....???
Yang menarik dan perlu kita cermati, dibalik semua itu sebenarnya terkandung makna, terbersit, nyata - nyata bahwa "the candidat" telah berlaku SOMBONG dan MUNAFIK. Kenapa???? Sering kita lihat dan baca di iklan mereka... " Jujur, terpercaya, berpihak kepada rakyat, yang benar dsb " kata - kata yang selalu mereka pakai. Dari konteks ini, sudah jelas bahwa mereka merasa SOK jujur, SOK bersih, SOK pahlawan dsb....
Bukankah kejujuran, kepercayaan, kepahlawanan,kebenaran adalah pertanggungjawaban pribadi masing - masing? yang menilai bukan dirinya? masyarakat yang menilai. Dari sedikit indikator iklan itu, kiranya perlu kita pikirkan dan kita renungkan.. pantaskah mereka "the candidate" yang beriklan itu kita pilih.... realita yang kontraproduktif, bukan?
Yang menarik dan perlu kita cermati, dibalik semua itu sebenarnya terkandung makna, terbersit, nyata - nyata bahwa "the candidat" telah berlaku SOMBONG dan MUNAFIK. Kenapa???? Sering kita lihat dan baca di iklan mereka... " Jujur, terpercaya, berpihak kepada rakyat, yang benar dsb " kata - kata yang selalu mereka pakai. Dari konteks ini, sudah jelas bahwa mereka merasa SOK jujur, SOK bersih, SOK pahlawan dsb....
Bukankah kejujuran, kepercayaan, kepahlawanan,kebenaran adalah pertanggungjawaban pribadi masing - masing? yang menilai bukan dirinya? masyarakat yang menilai. Dari sedikit indikator iklan itu, kiranya perlu kita pikirkan dan kita renungkan.. pantaskah mereka "the candidate" yang beriklan itu kita pilih.... realita yang kontraproduktif, bukan?
Kamis, 04 Desember 2008
Belajarlah kepada Pengalaman
Pepatah mengatakan " Pengalaman is the best teacher " or pengalaman adalah guru yang terbaik. Peribahasa atau pepatah tersebut kalau dikaji dan kita hubungkan dengan pengalaman pribadi kita tentunya tidak akan sulit menemukan jawabnya. Jawaban yang kita terima dari hati kita tentunya hampir 99% akan menjawab " Yes, its right " atau " Yo... pancen bener ". Pengalaman adalah sesuatu memory atau file yang sangat sulit kita hapus dari ingatan kita, hanya saja mau dan mampukah kita meneliti, mengingat, mempelajari pengalaman aitu sendiri. Pengalaman ini, menurut kejadiannya ada dua sumber, ada yang kita sengaja dan tidak kita sengaja.
Pengalaman yang kita sengaja adalah pengalaman yang di dapat dari sesuatu yang memang sengaja untuk kita lakukan untuk menambah wacana, pengalaman, wawasan pribadi kita. Sebagai contoh, menempuh strata pendidikan, berjalan - jalan (traveling), masuk suatu kelompok dsb. Untuk mendapatkan pengalaman mendapat pendidikan kita salah satunya harus melalui jenjang sekolah. Pengalaman ini mendominasi hidup manusia, karena faktor perencanaan sangat mempengaruhi dalam rencana perjalanan hidup manusia. Dari pengalaman inilah manusia dapat mempelajari semua yang mereka dapatkan dan pijakan untuk ke langkah selanjutnya.
Pengalaman yang tidak sengaja merupakan pengalaman yang benar - benar baru bagi manusia, baru didapatkan dari suatu kejadian yang menimpanya tanpa ada rekayasa. Sebagai contoh pengalaman spiritual, etika, estetika kehidupan dsb. Manusia terkadang tidak dapat mengungkapkan perihal pengalamannya yang ia dapat tanpa sengaja kepada orang lain, karena kehebatan pengalaman itu selama hidupnya. Sebenarnya dominasi dan kesempatan mendapatkan pengalaman ini sangat luas, karena alam menyediakan untuk kita.
Orang - orang tua kita dulu sangat memperhatikan dan meneliti semua kejadian yang mereka alami, sehingga setiap langkah yang akan diambil selalu diperhitungkan dengan matang. Kalaupun pengalaman itu tidak menimpa dirinya, orang akan tetap mempertimbangkan pengalaman dari orang lain yang pernah ia dengar atau lihat. Hal ini perbedaan mendasar antara generasi sekarang dengan generasi orang dahulu dalam mencermati, meneliti, mempelajari pengalaman - pengalaman yang dijalaninya. HENRY FORD pernah mengatakan " Hidup merupakan seri pengalaman, setiap pengalaman akan membuat kita menjadi lebih BESAR, meskipun kadang - kadang sulit untuk merealisasikannya".
Pengalaman yang kita sengaja adalah pengalaman yang di dapat dari sesuatu yang memang sengaja untuk kita lakukan untuk menambah wacana, pengalaman, wawasan pribadi kita. Sebagai contoh, menempuh strata pendidikan, berjalan - jalan (traveling), masuk suatu kelompok dsb. Untuk mendapatkan pengalaman mendapat pendidikan kita salah satunya harus melalui jenjang sekolah. Pengalaman ini mendominasi hidup manusia, karena faktor perencanaan sangat mempengaruhi dalam rencana perjalanan hidup manusia. Dari pengalaman inilah manusia dapat mempelajari semua yang mereka dapatkan dan pijakan untuk ke langkah selanjutnya.
Pengalaman yang tidak sengaja merupakan pengalaman yang benar - benar baru bagi manusia, baru didapatkan dari suatu kejadian yang menimpanya tanpa ada rekayasa. Sebagai contoh pengalaman spiritual, etika, estetika kehidupan dsb. Manusia terkadang tidak dapat mengungkapkan perihal pengalamannya yang ia dapat tanpa sengaja kepada orang lain, karena kehebatan pengalaman itu selama hidupnya. Sebenarnya dominasi dan kesempatan mendapatkan pengalaman ini sangat luas, karena alam menyediakan untuk kita.
Orang - orang tua kita dulu sangat memperhatikan dan meneliti semua kejadian yang mereka alami, sehingga setiap langkah yang akan diambil selalu diperhitungkan dengan matang. Kalaupun pengalaman itu tidak menimpa dirinya, orang akan tetap mempertimbangkan pengalaman dari orang lain yang pernah ia dengar atau lihat. Hal ini perbedaan mendasar antara generasi sekarang dengan generasi orang dahulu dalam mencermati, meneliti, mempelajari pengalaman - pengalaman yang dijalaninya. HENRY FORD pernah mengatakan " Hidup merupakan seri pengalaman, setiap pengalaman akan membuat kita menjadi lebih BESAR, meskipun kadang - kadang sulit untuk merealisasikannya".
Minggu, 30 November 2008
Sikap Satriya

Sebelum pecah perang besar dalam cerita Mahabarata, perang Baratayudha, ibu Pandawa (Dewi Kunthi mengutus keponakannya Sang Raja Dwarawati (Kresna) untuk menemui putranya "yang dibuang"-nya sewaktu kecil. Putra hasil kutukan Dewa Surya, "Karna". Nama yang sangat disegani di kalangan pewayangan, apalagi di Astina - Kurawa, karena Karna mempunyai kesaktian luar biasa dan sanat sulit dikalahkan, selain itu Karna mempunyai watak yang tegas dan keras seperti halnya BOPO-nya, Bathara Surya. Dewi Kunthi memohon kepada Kresna untuk menyampaikan kepada Karna bahwa Karna diminta untuk keluar dari Astina dan bergabung dengan saudara - saudaranya se-IBU, Pandawa. Kresna-pun melaksanakan perintah bibinya itu, dan Kresna segera menemui saudaranya Karna. Di luar dugaan Kresna, Karna menolak mentah - mentah tawaran dan ajakan Ibunya. Karna bahkan marah - marah dan lari pergi ke pinggir Sungai Gangga.
Mendengar berita itu, Dewi Kunthi menangis tersedu dan meratapi semua kesalahannya kepada Karna. Kunthi telah menyia - nyiakan Karna dengan membuangnya ke sungai Gangga hingga Karna kecil di ambil anak tukang kusir. Setelah dewasa Karna mengabdikan diri ke negara Astina. Akhirnya Dewi Kunthi tidak kuat menahan diri, dia nekat menemui Karna di tepi sungai Gangga. Kebetulan kok ya ketemu..... padahal Karna sering dolan lho......
Pertemuan antara Ibu dan anak yang terbuang itu mungkin yang terakhir kali bagi mereka. Kunthi mengungkapkan harapannya kembali ke Karna, sambil menangis dan memeluknya. Karna menyadari sekali bahwa yang di hadapi adalah ibu kandungnya (meski membuangnya karena menurut ajaran ibu kandung adalah segalanya dan harus di hormati, dijunjung tinggi). Dengan suara lirih namun tegas dan penuh hormat, Karna mengatakan beberapa hal kepada ibunya :
Mendengar berita itu, Dewi Kunthi menangis tersedu dan meratapi semua kesalahannya kepada Karna. Kunthi telah menyia - nyiakan Karna dengan membuangnya ke sungai Gangga hingga Karna kecil di ambil anak tukang kusir. Setelah dewasa Karna mengabdikan diri ke negara Astina. Akhirnya Dewi Kunthi tidak kuat menahan diri, dia nekat menemui Karna di tepi sungai Gangga. Kebetulan kok ya ketemu..... padahal Karna sering dolan lho......
Pertemuan antara Ibu dan anak yang terbuang itu mungkin yang terakhir kali bagi mereka. Kunthi mengungkapkan harapannya kembali ke Karna, sambil menangis dan memeluknya. Karna menyadari sekali bahwa yang di hadapi adalah ibu kandungnya (meski membuangnya karena menurut ajaran ibu kandung adalah segalanya dan harus di hormati, dijunjung tinggi). Dengan suara lirih namun tegas dan penuh hormat, Karna mengatakan beberapa hal kepada ibunya :
- Permintaan maaf kepada ibunya karena sudah menolak permohonannya.
- bahwa Karna tidak akan meninggalkan Astina karena yang membesarkan dan memberinya kehidupan adalah saudaranya kurawa. jadi secara lahir, dia harus tetap taat dan patuh kepada pemerintah yang memberi penghidupannya, dan membelanya sampai titik darah terakhir.
- Permintaan maaf kepada seluruh saudaranya (Pandawa) atas keputusannya. Dia meyakinkan ibunya bahwa dalam batinnya Karna tidak mempunyai rasa benci, iri kepada saudaranya Pandawa, tetapi malah sebaliknya.
keputusan yang kukuh dan satriya itu,melegakan hati Kunthi. Anaknya Karna membuktikan diri kepada darmanya kepada Bangsa dan negaranya. Dewi Kunthi memberikan restu kepada Karna, dan Karnapun lega hatinya. Dari cerita di atas, dapat kita petik beberapa pelajaran bahwa untuk membela negara, bangsa, kelompok, paguyuban itu sangat penting, lepas dari semua pernik - pernik yang ada dalam perjalanan sebuah bangsa, negara, kelompok itu. Yang mesti adalah bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna, bermanfaat bagi sesama. Jiwa kesatriya inilah yang kita tunggu dari seluruh generasi...... Slogan yang sangat enteng diucapkan tetapi sulit dilakukan, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)